Perpustakaan Inklusif Menyediakan Juru Bahasa Isyarat
Sebuah perpustakaan daerah yang kami dampingi sejak 2024 membuka kembali layanannya pada Mei 2026 dengan sejumlah penambahan yang ditujukan bagi pemustaka difabel. Perubahan ini bukan penambahan ruangan baru, melainkan penyesuaian pada layanan yang sudah ada.
Yang Ditambahkan
- Juru Bahasa Isyarat. Tersedia setiap Selasa dan Kamis pukul 09.00 sampai 15.00, serta pada seluruh acara diskusi buku dan pelatihan.
- Koleksi Braille. Bertambah dari 210 menjadi 640 judul, mencakup bacaan anak, sastra, dan buku pelajaran.
- Buku Suara. 1.180 judul dalam bentuk rekaman, dapat dipinjam melalui pemutar yang disediakan perpustakaan.
- Bilik Baca dengan Penerangan yang Dapat Diatur. Empat bilik dengan lampu yang dapat diatur terang dan arahnya, bagi pemustaka dengan penglihatan lemah maupun yang peka terhadap cahaya.
- Perangkat Pembesar Teks. Dua unit pembesar layar dan tiga kaca pembesar berpenerangan.
- Meja Layanan Rendah. Satu meja peminjaman setinggi 75 sentimeter yang dapat dijangkau dari posisi duduk.
- Katalog yang Dapat Dibaca Pembaca Layar. Katalog daring disusun ulang agar seluruh menunya dapat dijalankan dengan papan tombol.
Perpustakaan sering dianggap sudah terbuka untuk semua orang karena tidak memungut biaya. Padahal tidak memungut biaya bukan berarti dapat diakses.
Yang Kami Kerjakan Bersama Pengelola
Pendampingan dimulai dengan penelusuran bersama tujuh pemustaka difabel: dua pengguna kursi roda, dua pengguna tongkat putih, dua orang tuli, dan satu orang dengan disabilitas intelektual. Penelusuran memakan waktu dua hari dan menghasilkan 41 catatan hambatan, dari pintu masuk yang berat sampai penomoran rak yang tidak dapat dibaca dari posisi duduk.
Catatan itu diurutkan bersama pengelola menurut dua hal: berapa banyak pemustaka yang terpengaruh, dan seberapa cepat dapat diperbaiki. Urutan ini penting karena anggaran perpustakaan terbatas, dan menunggu anggaran besar sering berarti tidak ada perbaikan sama sekali.
Pelatihan Petugas
Delapan belas petugas mengikuti pelatihan komunikasi dengan pemustaka difabel selama dua hari. Materi yang paling banyak menimbulkan diskusi bukan soal teknik, melainkan soal sikap: kebiasaan berbicara kepada pendamping alih-alih kepada pemustaka, kebiasaan menawarkan bantuan tanpa bertanya lebih dahulu, dan kebiasaan menyelesaikan kalimat pemustaka yang berbicara lambat.
Enam petugas melanjutkan ke pelatihan bahasa isyarat dasar, dan dua di antaranya kini menjadi penghubung utama bagi pemustaka tuli pada hari ketika juru bahasa isyarat tidak bertugas.
Angka Kunjungan
| Periode | Kunjungan Pemustaka Difabel per Bulan |
|---|---|
| Sebelum Penyesuaian (2024) | Rata-rata 34 kunjungan |
| Selama Penyesuaian (2025) | Rata-rata 71 kunjungan |
| Setelah Pembukaan Kembali (Mei 2026) | 186 kunjungan |
Kenaikan ini menunjukkan hal yang sering kami sampaikan kepada penyelenggara layanan: rendahnya kunjungan pemustaka difabel bukan bukti bahwa mereka tidak berminat, melainkan bukti bahwa layanan tersebut belum dapat mereka pakai.
Perpustakaan lain yang hendak melakukan penyesuaian serupa dapat mengajukan konsultasi melalui halaman layanan. Panduan penyediaan informasi yang dapat diakses tersedia pada halaman dokumen.