Pelatihan Juru Bahasa Isyarat untuk Layanan Publik
Empat puluh petugas dari rumah sakit daerah, puskesmas, dan kantor kelurahan menyelesaikan pelatihan dasar bahasa isyarat yang diselenggarakan AsiaTogel Inklusi Difabel sepanjang Juni sampai pertengahan Juli 2026. Pelatihan berlangsung 32 jam pelajaran, dibagi menjadi delapan pertemuan, dan ditutup dengan penilaian praktik bersama penutur bahasa isyarat.
Pelatihan ini berangkat dari keluhan yang berulang muncul dalam pendampingan kami. Warga tuli yang datang ke layanan kesehatan atau kantor administrasi hampir selalu harus membawa anggota keluarga sebagai penerjemah. Akibatnya, urusan yang seharusnya bersifat pribadi menjadi urusan bersama keluarga, dan tidak jarang keterangan yang disampaikan menjadi tidak utuh.
Mengapa Petugas Garis Depan yang Dilatih
Menyediakan juru bahasa isyarat bersertifikat pada setiap titik layanan bukan hal yang dapat dilakukan dalam waktu dekat. Jumlah juru bahasa isyarat di Indonesia masih jauh di bawah kebutuhan, dan sebarannya menumpuk di kota besar. Karena itu langkah pertama yang kami ambil bukan menambah juru bahasa, melainkan memastikan petugas yang setiap hari melayani warga mampu menangani percakapan dasar.
Kemampuan dasar itu mencakup hal-hal yang tampak sederhana namun menentukan: menyapa, menanyakan keperluan, menjelaskan urutan antrean, menanyakan keluhan, dan menyampaikan bahwa juru bahasa isyarat sedang dihubungkan. Dengan kemampuan tersebut, warga tuli setidaknya dapat memulai urusannya sendiri dan tahu apa yang sedang terjadi.
Isi Pelatihan
- Pengenalan bahasa isyarat sebagai bahasa yang memiliki tata bahasa sendiri, bukan terjemahan kata per kata dari bahasa lisan.
- Abjad jari dan pengejaan nama, tempat, serta istilah yang belum memiliki isyarat baku.
- Isyarat percakapan layanan: sapaan, keperluan, antrean, jadwal, dan biaya.
- Isyarat istilah kesehatan dasar: bagian tubuh, jenis keluhan, tingkat nyeri, dan tindakan pemeriksaan.
- Isyarat istilah administrasi kependudukan: kartu identitas, kartu keluarga, surat keterangan, dan tanda tangan.
- Etika berkomunikasi: menghadap lawan bicara, menjaga jarak pandang, tidak berbicara sambil menulis, dan tidak meninggikan suara.
Kesalahan yang paling sering terjadi bukan kesalahan isyarat, melainkan kebiasaan berbicara kepada pendamping alih-alih kepada orang yang bersangkutan. Kebiasaan itu yang paling lama diperbaiki dalam pelatihan.
Penilaian Praktik
Penilaian akhir tidak dilakukan dengan ujian tertulis. Setiap peserta melayani tiga percakapan simulasi bersama penutur bahasa isyarat yang berperan sebagai warga: mendaftar layanan kesehatan, menanyakan syarat pengurusan surat keterangan, dan menyampaikan keluhan atas pelayanan. Penilai menandai apakah percakapan dapat diselesaikan tanpa bantuan pihak ketiga, dan apakah petugas menghadap ke arah lawan bicara sepanjang percakapan.
Tiga puluh empat dari empat puluh peserta menyelesaikan seluruh percakapan tanpa bantuan. Enam peserta yang belum lulus diminta mengikuti dua pertemuan tambahan pada Agustus. Kami memilih tidak menurunkan patokan penilaian, karena sertifikat yang diberikan akan dipakai untuk menyatakan bahwa titik layanan tersebut dapat melayani warga tuli.
Langkah Berikutnya
Petugas yang lulus akan didampingi selama tiga bulan pertama melalui kunjungan bulanan dan saluran tanya jawab daring. Pendampingan ini penting karena kemampuan berbahasa isyarat menurun cepat bila jarang dipakai, terutama pada titik layanan yang jarang didatangi warga tuli.
Pada saat yang sama kami menyiapkan layanan juru bahasa isyarat jarak jauh melalui panggilan video untuk keadaan yang memerlukan percakapan rinci, seperti penjelasan tindakan medis atau pemeriksaan perkara. Layanan ini direncanakan mulai berjalan pada triwulan keempat 2026.
Angkatan pelatihan berikutnya dibuka pada September 2026 dan diperuntukkan bagi petugas kantor polisi serta petugas pengadilan. Penyelenggara layanan yang hendak mengikutsertakan petugasnya dapat mengajukan permohonan melalui halaman kontak.